liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
bosswin168
bosswin168 login
bosswin168 login
bosswin168 rtp
bosswin168 login
bosswin168 link alternatif
boswin168
bocoran rtp bosswin168
bocoran rtp bosswin168
slot online bosswin168
slot bosswin168
bosswin168 slot online
bosswin168
bosswin168 slot viral online
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
lotus138
bosswin168
bosswin168
bosswin168
maxwin138
master38
master38
master38
mabar69
mabar69
mabar69
mabar69
master38
ronin86
ronin86
ronin86
cocol77
cocol77
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86

Latest Post

BMW Siapkan Dana Rp 13.1 Triliun untuk Ekspansi ke Meksiko Saham Teknologi Diprediksi Memimpin Pasar karena Keberhasilan The Fed Kendalikan Inflasi

Laporan reporter Tribunnews, Choirul Arifin

TRIBUNNEWS.COM, BANDUNG – Sebuah artikel yang mengupas tentang potensi ekonomi negara yang sangat besar dalam industri hijab menjadi bahasan menarik dalam artikel berbasis riset yang dirilis di World Economic Forum (WEF).

Riset yang dilakukan Evermos dan trending di Twitter menemukan data transaksi hijab di Indonesia mencapai 1 miliar helai per tahun atau setara dengan lebih dari Rp 91 triliun.

Suatu jumlah yang sungguh luar biasa untuk menunjukkan perputaran ekonomi masyarakat, khususnya dalam bisnis busana muslim.

Baca juga: Menteri Sandiaga Optimalkan Potensi Transaksi Belanja Produk Hijab Capai Rp 91 Triliun

Namun fakta lainnya, hanya 25 persen dari produk hijab tersebut yang berasal dari produksi lokal. Dengan kata lain, potensi besar tersebut belum dioptimalkan oleh pemain lokal.

Mengutip data demografi Kementerian Dalam Negeri, sebanyak 86,9 persen dari 273 juta penduduk Indonesia beragama Islam.

Saat membahas artikel yang sama dalam unggahannya, Raymond Chin, CEO & Founder Ternakuang mengatakan, pasar ekonomi syariah di Indonesia merupakan raksasa yang sedang tidur. “Potensinya sangat besar, namun belum dimaksimalkan oleh para pelaku UKM di Indonesia,” katanya.

Evermos yang menerbitkan artikel-artikel yang ramai diperbincangkan adalah social commerce yang berfokus pada produk halal dan memiliki visi untuk memfasilitasi para pengusaha sekaligus mengembangkan brand dan UKM lokal.

Melihat potensi besar pengembangan ekonomi melalui UKM, Evermos berharap semakin banyak masyarakat yang mendukung produk lokal, salah satunya tudung.

Dalam sesi wawancara, Ghufron Mustaqim, Chief Executive Officer & Co-Founder Evermos mengatakan, kontribusi social commerce terhadap perekonomian Indonesia mencapai US$12 miliar.

Baca juga: Kisah Inspiratif, Mahasiswa Jual Ribuan Jilbab ke Singapura dan Malaysia Lewat E-Commerce

Sebagai perusahaan social commerce terkemuka, kami ingin terus meningkatkan kontribusi kami terhadap perekonomian nasional dengan membantu penjualan produk halal merek lokal melalui jaringan reseller di Evermos.

Untuk mempromosikan potensi hijab lokal ke pasar yang lebih luas, platform social commerce ini menggandeng produser ternama Hanung Bramantyo dan baru-baru ini meluncurkan film dokumenter pendek. Film ini mengangkat kisah para pelaku industri hijab di tanah air.

Pengusaha, pelaku UMKM, perancang busana, pemotong kain, penjahit, hingga Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno memberikan pandangannya tentang film berdurasi kurang dari 25 menit itu.

Ghufron Mustaqim menjelaskan, industri hijab dalam negeri mampu menciptakan efek bola salju untuk memajukan perekonomian nasional.