liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
bosswin168
bosswin168 login
bosswin168 login
bosswin168 rtp
bosswin168 login
bosswin168 link alternatif
boswin168
bocoran rtp bosswin168
bocoran rtp bosswin168
slot online bosswin168
slot bosswin168
bosswin168 slot online
bosswin168
bosswin168 slot viral online
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
lotus138
bosswin168
bosswin168
bosswin168
maxwin138
master38
master38
master38
mabar69
mabar69
mabar69
mabar69
master38
ronin86
ronin86
ronin86
cocol77
cocol77
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86

Latest Post

BMW Siapkan Dana Rp 13.1 Triliun untuk Ekspansi ke Meksiko Saham Teknologi Diprediksi Memimpin Pasar karena Keberhasilan The Fed Kendalikan Inflasi

Laporan reporter Tribunnews.com, Nitis Hawaroh

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Ekonom Senior Institute of Economic and Financial Development (Indef), Faisal Basri mengatakan, industri manufaktur Indonesia kini mengalami tanda-tanda awal deindustrialisasi.

Faisal Basri mengatakan, gejala tersebut terlihat dari pertumbuhan industri manufaktur yang selalu lebih rendah dari produk domestik bruto (PDB) atau nilai pasar seluruh barang dan jasa yang diproduksi.

“Jadi ada semacam tanda awal deindustrialisasi. Sektor industri manufaktur kita mengalami pelambatan dini, sebelum mencapai titik optimalnya,” ujar Faisal Basri dalam Diskusi Umum Indef, Kamis (5/1/2023).

Menurut Faisal, peran industri manufaktur terhadap PDB menurun tajam menjadi 29 persen dan 18,3 persen pada kuartal III 2022.

Dia mengatakan lemahnya industri manufaktur berdampak pada kelas pekerja kelas menengah yang relatif miskin atau formal.

“Akibatnya karena struktur manufaktur juga lemah, yang bisa kami jual juga terbatas di manufaktur,” ujarnya.

Terakhir, kata Faisal, kelemahan industri manufaktur juga terlihat dari jenis industri makanan dan minuman (Mamin) yang jumlahnya hampir 40 persen dari keseluruhan industri manufaktur nonmigas.

Sedangkan industri kimia, farmasi, dan jamu naik 10% atau mencapai 50% dari total industri manufaktur nonmigas.

Baca juga: Daya Beli Melemah, Industri Manufaktur Asia Turun Di Bawah 50 Persen

“Kedua industri ini memberikan kontribusi yang tidak sedikit dan di tengah semua sektor positif. Sehingga industri semakin melemah,” kata Faisal Basri.

“Manufaktur kurang diversitas, jadi industri kita melambat, kemudian sangat tergantung pada beberapa subsektor industri. Jadi tadi juga lemah pondasi ekonomi daripada lemah politik,” lanjutnya.