liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
bosswin168
bosswin168 login
bosswin168 login
bosswin168 rtp
bosswin168 login
bosswin168 link alternatif
boswin168
bocoran rtp bosswin168
bocoran rtp bosswin168
slot online bosswin168
slot bosswin168
bosswin168 slot online
bosswin168
bosswin168 slot viral online
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
lotus138
bosswin168
bosswin168
bosswin168
maxwin138
master38
master38
master38
mabar69
mabar69
mabar69
mabar69
master38
ronin86
ronin86
ronin86
cocol77
cocol77
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86

Latest Post

BMW Siapkan Dana Rp 13.1 Triliun untuk Ekspansi ke Meksiko Saham Teknologi Diprediksi Memimpin Pasar karena Keberhasilan The Fed Kendalikan Inflasi

Reporter Tribunnews.com Chaerul Umam melaporkan

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Kepala Pusat Perindustrian, Perdagangan dan Investasi Indef Andry Satrio Nugroho mengatakan, pemerintah perlu mendorong diversifikasi produk berorientasi ekspor.

Saat ini, Indonesia masih sangat bergantung pada ekspor komoditas. Oleh karena itu, Indonesia perlu mengubah struktur ekspornya melalui diversifikasi produk dan peningkatan nilai tambah.

“Tentu yang kita dorong sekarang adalah bagaimana kita bisa mendiversifikasi produk yang kita ekspor. Jadi tentu saja kita tidak hanya bergantung pada ekspor komoditas saja. Selama ini kita masih bergantung pada ekspor barang mentah dan juga komoditas yang secara nilai tambahnya juga rendah,” ujar Andry Satrio melalui keterangannya di Jakarta, Kamis (12/1/2023).

Andry menilai industri dalam negeri masih belum optimal terkait dengan global value chain (GVC).

GVC adalah rantai tahapan dalam produksi barang dan jasa mulai dari desain produk hingga distribusi ke pengguna akhir barang yang diproduksi dan dirakit di berbagai negara.

“Hal ini didorong oleh kondisi industri kita saat ini dimana kita dapat membicarakan permasalahan industri yang masih minim terkait dengan rantai nilai global yang diinginkan,” ujarnya.

Kendati demikian, Andry mengatakan konsumsi dalam negeri masih akan banyak membantu perekonomian negara.

Hal ini berbeda dengan negara lain yang masih bergantung pada sektor perdagangan ekspor dan impor dalam perekonomiannya.

“Kita lihat saja, kalau misalnya ke depan ekspor kita turun, apalagi produk jadi, tentu dampaknya secara agregat terhadap perekonomian tidak terlalu besar. Kenapa? Karena PDB kita masih didominasi oleh konsumsi sektoral, ” dia berkata.

Baca juga: Menko Airlangga Resmikan Fasilitas Produksi dan Ekspor Produk Tembakau Tanpa Asap Sampoerna

Selain itu, Andry menilai perjanjian kerja sama perdagangan dengan beberapa negara juga perlu ditingkatkan mengingat situasi ekonomi global saat ini juga sedang tidak stabil.

“Kedua, bagaimana kita bisa membuat perjanjian kerja sama perdagangan yang cukup masif. Dalam situasi yang tidak stabil, proses perjanjian kerjasama merupakan proses dimana kita dapat mendorong stabilitas perdagangan dengan negara asing agar tetap terjaga. ,” dia berkata.

Selain itu, langkah yang dapat dilakukan adalah dengan meningkatkan kapasitas market intelligence.

Kondisi pasar yang tidak stabil tentunya membutuhkan tidak hanya peramalan tetapi juga kekuatan agar pasar di luar pasar ini dapat diisi oleh produk-produk dari Indonesia.

“Jadi, kita bisa melakukan kegiatan market intelligence di luar negeri sehingga setidaknya kita mendapatkan gambaran apa yang perlu kita dorong atau apa yang perlu kita kembangkan di industri dalam negeri kita,” ujarnya.

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan Indonesia termasuk dalam kelompok negara yang memiliki daya tahan terhadap situasi ketidakpastian global saat ini karena tidak terlalu bergantung pada ekspor atau kontribusi ekspor terhadap perekonomian nasional.

Kendati demikian, Airlangga juga menyebut pertumbuhan ekspor dan impor pada 2023 akan menurun.

Baca juga: Tingkatkan Selectability, Golkar Terus Gema Kinerja Rumit Airlangga Hartarto

Pada 2023, ekspor diproyeksikan hanya tumbuh 12,8 persen dan impor 14,9 persen. Sedangkan pada tahun 2022 ekspor meningkat sebesar 29,4% dan impor meningkat sebesar 25,37%.

“Ini terjadi karena fondasinya sudah tinggi,” kata Ketua Umum Partai Golkar itu.